PENGUKURAN KADAR KOLESTEROL (METODE LIEBERMAN-BURCHARDS)

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kolesterol adalah metabolit yang mengandung lemak sterol (bahasa Inggris: waxy steroid) yang ditemukan pada membran sel dan disirkulasikan dalam plasma darah. Merupakan sejenis lipid yang merupakan molekul lemak atau yang menyerupainya. Kolesterol ialah jenis khusus lipid yang disebut steroid. Steroids ialah lipid yang memiliki struktur kimia khusus. Struktur ini terdiri atas 4 cincin atom karbon. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kolesterol)

Kolesterol merupakan unsur makanan yang banyak dijumpai dalam bahan makanan sehari-hari yang berasal dari tumbuhan maupun dari produk hewan. Kadar kolesterol dalam setiap jenis bahan makanan khususnya yang berasal dari produk hewan bervariasi tergantung jenis dan macam produk hewan. Kandungan kadar kolesterol pada setiap bagian tubuh hewan berbeda, ada  bagian yang sangat banyak mengandung kolesterol dan bagian lain sebaliknya. Sebagai  contoh pada otak, hati dan kuning telur memiliki kadar kolesterol yang sangat tinggi. Kolesterol secara fisiologi penting bagi tubuh, karena merupakan bahan untuk membangun membran sel dan hormon-hormon yang memiliki peranan vital khususnya kelompok hormon steroid.

Tubuh manusia dan hewan yang normal akan berusaha memelihara konsentrasi plasma kolesterol dengan cara mengatur sintesis dan ekskresi kolesterol. Kolesterol yang melebihi kebutuhan tubuh akan dieliminir melalui empedu, tetapi walapun begitu jika pasok kolesterol dari makanan berlebih yang akhirnya melebihi kebutuhan tubuh, maka akan berakibat kurang baik bagi tubuh dan dapat menimbulkan berbagai gangguan fisiologi seeperti artheroskerosis yang manifestasinya dapat menjadi penyakit jantung koroner atau stroke. Kolesterol merupakan substansi lemah, oleh karena itu kolesterol tidak larut dalam air, dapat diekstraksi  dari jaringan dengan kloroform, eter, benzena, dan alkohol panas.

Dari uraian di atas maka dilakukan praktikum tentang pengukuran kadar kolesterol dengan harapa bahwa kadar kolesterol dari sampel yang digunakan bisa diketahui. Sampel yang digunakan pada praktikum ini adalah otak, kulit, hati, dan daging. Untuk mengetahui kandungan kolesterol dalam berbagai bahan makanan seperti sampel di atas, dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode pengukuran baik secara kualitatif maupun kuantitatif dari metode yang sederhana sampai metode yang kompleks. Tentu saja setiap metode memiliki kelebihaan dan kekurangan, oleh karena itu dalam tulisan ini akan disajikan pengukuran kadar koleterol dengan metode Lieberman-Burchards yang menggunakan alat spesifik berupa spektrofotometer.

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana prinsip pengukuran kadar kolesterol dengan menggunakan metode Liebermen-Burchards ?
  2. Berapakah kadar kolesterol dalam otak, kulit, hati dan daging ?

C. Tujuan

  1. Untuk mengetahui prinsip pengukuran kadar kolesterol dengan menggunakan metode Liebermen-Burchards.
  2. Untuk mengetahui kadar kolesterol dalam  otak, kulit, hati, dan daging.

D. Manfaat

  1. Memberikan pengetahuan tentang prinsip pengukuran kadar kolesterol dengan menggunakan metode Liebermen-Burchards.
  2. Memberikan gambaran umum tentang kadar kolesterol dalam  otak, kulit, hati, dan daging.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kolesterol

Kolesterol merupakan sterol yang paling banyak terdapat dalam badan manusia, terutama pada otak, jaringan syaraf, cairan empedu dan darah. Senyawa ini merupakan penyusun utama batu empedu. Kolestrol banyak dijumpai pada lemak binatang, tetapi tidak pernah ditemukan pada lemak tumbuhan. Tumbuhan mempunyai sterol yang disebut fitosterol.

Kolesterol merupakan senyawa yang memiliki inti empat cincin siklopentano – fenantren. Termasuk lemak dengan daya larut yang sangat kecil dalam air. Kadarnya dalam plasma darah 150-200mg/ml, sekitar 2x kadar glukosa darah. Dalam plasma darah 30% berikatan dengan lipoprotein yang mampu menambah daya larutnya dalam darah. Sebanyak 70% lagi kolesterol darah berada berupa kolesterol ester. Kolesterol juga banyak terdapat dalam empedu, dengan kadar 390mg/100ml (Yatim. 2003: 205). Kolesterol tidak larut dalam air tetapi dapat diekstraksi dari jaringan dengan kloroform, eter, benzena dan alkohol panas. Kolesterol termasuk senyawa steroida dengan rumus C27H45OH.

Kebanyakan kolesterol diet ada dalam bentuk teresterkan. Esterkolesterol yang ada ditemukan oleh empedu lalu dihidrolisis oleh esterase kolesterol pankreas.

Ester kolesterol + H2O                            kolesterol + asam lemak (Astuti. 2010: 16).

Secara umum kolesterol merupakan derivate lemak yang banyak dijumpai dalam bahan makanan khususnya yang berasal dari hewan. Kadar kolesterol dalam setiap jenis bahan makanan cukup bervariasi tergantung pada jenis dan macam produknya, bahkan kandungan kolesterol pada setiap bagian/organ tubuh hewan pun berbeda- beda. Secara fisiologi kolesterol penting bagi tubuh, karena merupakan bahan penyusun membran sel, sintesis garam empedu dan prasat (precursor) hormon khususnya kelompok hormon steroid. Namun demikian, kelebihan kolesterol dapat menyebabkan timbulnya berbagai gangguan kesehatan, salah satunya adalah atherosclerosis yaitu timbunan kolesterol pada pembuluh darah khususnya pada tunica media arteri. Atherosklerosis merupakan predisposisi infark miokard, stroke, trombosis otak dan penyakit serius lainnya.

B. Jenis Kolesterol

Setiap orang memiliki kolesterol di dalam darahnya, di mana 80% diproduksi oleh tubuh sendiri dan 20% berasal dari makanan. Kolesterol yang diproduksi terdiri atas 2 jenis yaitu :

  1. Kolesterol LDL, adalah kolesterol jahat, yang bila jumlahnya berlebih di dalam darah akan diendapkan pada dinding pembuluh darah membentuk bekuan yang dapat menyumbat pembulun darah.
  2. Kolesterol HDL, adalah kolesterol baik, yang mempunyai fungsi membersihkan pembuluh darah dari kolesterol LDL yang berlebihan. Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan suatu tanda yang baik sepanjang kolesterol LDL kurang dari 150 mg/dl.

Selain itu ada juga Trigliserida. Lemak ini terbentuk sebagai hasil dari metabolisme makanan, bukan saja yang berbentuk lemak tetapi juga makanan yang berbentuk karbohidrat dan protein yang berlebihan, yang tidak seluruhnya dibutuhkan sebagai sumber energi. Kadar trigliserida ini akan meningkat bila kita mengkonsumsi kalori berlebihan, lebih besar daripada kebutuhan kita. (http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid997059568,35248,)

Kolesterol LDL sering disebut dengan kolesterol ‘jahat’, karena peningkatan kadar kolesterol ini dalam darah dihubungkan dengan peningkatan resiko penyakit jantung koroner. Kolesterol LDL akan berakumulasi di dinding arteri sehingga membentuk semacam plak yang menyebabkan dinding arteri menjadi kaku dan rongga pembuluh darah menyempit. Proses ini dikenal dengan nama atherosklerosis. Kolesterol HDL sebaliknya sering disebut dengan kolesterol ‘baik’ karena kolesterol HDL mencegah terjadinya atherosklerosis dengan cara mengeluarkan kolesterol ‘jahat’ dari dinding arteri dan mengirimkannya ke hati. Jadi, bila kadar kolesterol LDL tinggi sedangkan kadar kolesterol HDL rendah maka merupakan faktor resiko terjadinya atherosklerosis. Sebaliknya yang diharapkan adalah kadar kolesterol LDL rendah dan kadar kolesterol HDL yang tinggi.

Kadar kolesterol baik LDL maupun HDL juga dipengaruhi oleh faktor herediter atau keturunan. Pada pasien dengan familial hypercholesterolemia (FH), terdapat pengurangan jumlah yang signifikan dari reseptor kolesterol LDL dalam hatinya.Pasien ini juga akan rentan menderita atherosklerosis dan serangan jantung pada usia muda. Makanan yang banyak mengandung lemak jenuh dan kolesterol akan meningkatkan kadar kolesterol LDL dalam darah. Lemak dibagi menjadi lemak jenuh dan lemak tak jenuh berdasarkan pada struktur kimianya. Lemak jenuh terutama berasal dari daging dan produk olahan susu yang akan meningkatkan kadar kolesterol darah. Beberapa minyak tumbuhan yang dibuat dari buah kelapa, sawit, dan cokelat juga tinggi kadar lemak jenuhnya. Menurunkan kadar kolesterol LDL saat ini merupakan fokus utama dalam mencegah atherosklerosis dan serangan jantung. Beberapa dokter dan ahli percaya bahwa keuntungan menurunkan kadar kolesterol LDL antara lain :

  • Mengurangi dan menghentikan pembentukan plak kolesterol pada dinding pembuluh darah.
  • Memperlebar rongga arteri.
  • Mencegah pecahnya plak kolesterol yang mempunyai resiko membentuk gumpalan darah/trombus (faktor resiko stroke)
  • Menurunkan resiko serangan jantung.
  • Menurunkan resiko stroke.

C. Cara Sel – Sel Tubuh Mengambil Kolesterol Dari LDL

Pada permukaan molekul LDL terdapat protein yang disebut Apolipoprotein B- 100 dan Apolipoprotein E. Hampir semua sel – sel tubuh memiliki reseptor. Sel liver memiliki reseptor yang dapat mengikat Apolipoprotein E Yang terdapat dipermukaan LDL. Sel – sel yang lain (selain sel liver) memiliki reseptor yang dapat mengikat Apolipoprotein B-100 yang terdapat dipermukaan LDL. Ikatan antara reseptor sel dan Apolipoprotein LDL akan membentuk suatu kompleks ( LDL + Reseptor sel ) yang kernudian akan masuk ke dalam sel (internalisasi) dengan cara endositosis, yaitu membran plasma sel akan melekuk ke dalam sehingga kompleks (LDL + Reseptor sel) ini akan masuk kernudian menyatu membentuk suatu vesikel endositik.

Vesikel – vesilkel yang mengandung LDL ini kemudian akan berfusi (menyatu) dengan lisosom (yang mengangkut bermacan-macam enzim pencernaan). Kompleks (LDL + reseptor) ini akan diurai oleh enzim – enzim pencernaan yang terdapat dalam lisosom ini, antara lain :

  • Protein LDL akan diurai menjadi asam arnino bebas
  • Ester kolesterol akan diurai nenjadi kolestrol bebas dan asam lemak linoleat

Reseptor sel biasanya utuh kembali ke membrane plasma sel. Waktu perputaran (turn over) reseptor sel adalah kira-kira 10 menit, sehingga dalam 1 hari reseptor sel ini akan membawa 144 partikel LDL ke dalam sel. Kolesterol bebas kemudian dipakai untuk sintesis membrane sel sebagian juga mengalami esterifikasi dengan asam lemak oleat atau palmitoleat (asarn lemak tak jenuh tunggal) untuk disimpan di dalam sel. Asam lemak ester kolesterol di LDL biasanya adalah linoleat (asam lemak tak jenuh ganda)

D. Cara Tubuh Membuang Kolesterol

Jaringan mamalia tidak memiliki enzim vang mampu mengkatabolis inti kolesterol, sehingga kolesterol tidak dapat dirusak oleh oksidasi menjadi karbon dioksida dan air. Oleh sebab itu kolesterol hanya dapat dibuang dari tubuh melaui sintesis asam ernpedu yang banyak, karena sebagian besar bahan dasar asam empedu adalah kolesterol. Untuk mensintesis asam empedu yang banyak, berarti asam empedu yang terdapat di kantong, empedu harus dikosongkan terus – menerus, yakni dibuang melalui tinja.

E. Fungsi Kolesterol

Tubuh kita menggunakan kolesterol untuk membuat:

  1. Hormon seks, sangat penting bagi perkembangan dan fungsi organ seksual.
  2. Hormon korteks adrenal,m penting untuk metabolisme dan keseimbangan garam dalam tubuh.
  3. Vitamin D, penting dalam penyerapan Ca.
  4. Garam empedu, membantu usus menyerap lemak.
  5. Membran sel dan lapisan luar lipoprotein.

F.  Pengukuran Kadar Kolesterol

Untuk mengetahui kandungan kolesterol dalam berbagai bahan makanan, dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode pengukuran baik secara kualitatif maupun kuantitatif dari metode yang sederhana sampai metode yang kompleks. Tentu saja setiap metode memiliki kelebihaan dan kekurangan, oleh karena itu dalam tulisan ini akan disajikan pengukuran kadar koleterol dengan metode Lieberman-Burchards yang menggunakan alat spesifik berupa spektrofotometer. (Astuti. 2010: 17)

Pada metode ini, kolesterol total berupa kolesterol bebas dan ester kolesterol diekstraksi. Jumlah kiolesterol ditentukan kolorimetris dengan menerapkan reaksi Liebermann-Burchard dan dibandingkan dengan larutan standard kolesterol yang diketahui (Dawiesah, 1989 : 99). Namun dalam kegiatan ini menggunakan larutan standar sebagai pembanding. Reaksi Liebermann-Burchard merupakan dasar penentuan fotometri kolesterol. Cuplikan kolesterol dilarutkan dalam kloroform direaksikan dengan asetat anhidrat dan sedikit asam sulfat pekat akan terjadi pewarnaan yang khas untuk sterol tunggal (Schunack,et al., 1990 : 81). Pada reaksi Liebermann-Burchard larutan akan berubah warna dengan segera menjadi merah dengan cepat akan menjadi biru-violet (Kolekalsiterol kolesterol) dan untuk selanjutnya akan menjadi hijau (ergokalsiferol) ( Schunack, et al., 1990 : 634).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Alat    : Bahan    :
  1. Beaker glass
  2. Tabung reaksi
  3. Tabung sentrifuge
  4. Penggerus porselin (mortal)
  5. Batang pengaduk
  6. Pipet ukur
  7. Filler
  8. Waterbath Pipet
  9. Kompor listrik/kompor gas
  10. Sentrifuge
  11. Timbangan elektrik
  12. Spektrofotometer
  13. Tabung cuvet
  14. Rak tabung reaksi
  15. Vortex
  1. Alkohol absolut
  2. Aseton
  3. Kloroform
  4. Asam sulfat pekat
  5. Asetat anhidrat
  6. Sampel (otak, kulit, daging , dan hati ayam)

B. Cara Kerja

  1. Sampel 1 mL/1 gr dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge yang telah berisi 10 mL aseton:alkohol (1:1) kemudian diaduk sampai rata.
  2. Tabung yang berisi bahan tadi dipanaskan pada waterbath sampai mendidih. Tabung kemudian diangkat dan didinginkan dalam temperatur kamar, setelah dingin disentrifuge pada kecepatan 1750 rpm selama 15 menit.
  3. Supernatan (bagian bening) yang terbentuk dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian diuapkan dengan dipanaskan dalam waterbath sampai kering dan akan terbentuk pasta (residu).
  4. Residu dilarutkan dalam kloroform dan dihomogenisasi (langkah ini merupakan langkah pengenceran yang disesuaikan dengan volume pengenceran dari masing-msaing sampel yang diperiksa. Setelah diencerkan sampel ditambah dengan 2 mL campuran asam sulfat dan asetat anhidrat (1:30)).
  5. Larutan residu yang telah diencerkan tadi ditempatkan pada ruang gelap selama 5 menit hingga terbentuk warna hijau. Hasil warna yang diperoleh dibaca dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 680 nm.
  6. Membuat larutan blanko yang berisi 2 mL kloroform dan 2 mL campuran asam sulfat dan asetat anhidrat (1:30)
  7. Hasil pembacaan dimasukkan ke dalam persamaan regresi dari kadar kolesterol standart.

a) Residu otak : 60 kali

  1. Residu + 3 mL kloroform (dihomogenisasi)
  2. 0,1 mL larutan residu + 1,9 mL kloroform + 2 mL campuran asam sulfat dan asetat anhidrat (1:30) (dihomogenisasi)

b) Residu hati : 40 kali

  1. Residu + 2 mL kloroform (dihomogenisasi)
  2. Menambahkan larutan Lowry A 0,5 ml pada masing – masing tabung, divortex dan dibiarkan 30 menit

c) Residu kulit dan daging : 10 kali

  1. Residu + 2 mL kloroform (dihomogenisasi)
  2. 0,4 mL larutan residu + 1,6 mL kloroform + 2 mL campuran asam sulfat dan asetat anhidrat (1:30) (dihomogenisasi)

d) Pembuatan larutan kolesterol standar

  1. Membuat larutan kolesterol murni dengan konsentrasi 2 mg/mL, sebanyak 10 mL dan diencerkan dengan 40 mL kloroform sehingga terbentuk larutan dengan konsentrasi 0,4 mg/nL (larutan).
  2. Larutan tadi diambil 20 mL dimasukkan tabung reaksi dan ditambah kloroform 20 mL sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 0,2 mg/mL (larutan B). dari larutan B diambil masing-masing 9 mL, 7 mL, 6 mL, 5 mL, 4 mL, 2 mL. dari pengenceran larutan B ini akan diperoleh larutan dengan konsentrasi 0,18; 0,14; 0,12; 0,10; 0,08; 0,06; 0,04 mg/mL.
  3. Larutan tadi diambil lagi sebanyak 30 mL (larutan A). dari larutan A ini diambil 8, 7, 6, 5, 4 mL. Masing-masing dimasukkan ke dalam larutan enam konsentrasi 0,32; 0,28; 0,24; 0,20 dan 0,16 mg/mL
  4. Larutan standart tersebut masing-masing diambil 3 mL dan ditambahkan 3 mLasetat danhidrat – asm sulfat 30: 1, ditempatkan pada ruangan yang gelap selama 5 menit hingga larutan menjadi hijau, diukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang  680 nm.

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

  1. Hasil percobaan
No. Sampel Absorbansi (nm)
1 Otak 0,045
2 Kulit 0,231
3 Hati 0,023
4 Daging 0,195
  1. Kurva standar kolesterol
Larutan B (ml) Kloroform (ml) Konsentrasi (mg/ml) Absorbansi 680
9 1 0,18 1,2
7 3 0,14 0,9
6 4 0,12 0,7
5 5 0,10 0,4
4 6 0,08 0,3
3 7 0,06 0,2
2 8 0,04 0,1

Larutan A (ml) Kloroform (ml) Konsentrasi (mg/ml) Absorbansi 650
7 3 0,28 1,6
6 4 0,24 1,1
5 5 0,20 1,4
4 6 0,16 0,7


3.  Analisis

Y= 6,313 X – 0,136

X= Y + 0,136

6,313

Karena ada faktor pengenceran sehingga rumusnya Y x n = 6,313 X – 0,136

Y= absorbansi

X= kadar kolesterol

n= Pengenceran

Sehingga kadar kolesterol pada sampel:

Sampel Otak

Y x n = 6,313 X – 0,136

0,045 x 60 = 6,313 X – 0,136

2,7 + 0,136 = 6,313 X

2,836 = 6,313 X

X = 0,449 mg/ml

  1. Hati

Sampel Hati

Y x n = 6,313 X – 0,136

0,023 x 40 = 6,313 X – 0,136

0,92  + 0,136= 6,313 X

1,056= 6,313 X

X = 0,167 mg/ml

Daging dan kulit

Sampel daging

Y x n = 6,313 X – 0,136

0,195 x 10 = 6,313 X – 0,136

1,95 + 0,136= 06,313 X

2, 086= 6,313 X

X = 0,330  mg/ml

Sampel kulit

Y x n = 6,313 X – 0,136

0,231 x 10 = 6,313 X – 0,136

2,31 + 0,136 = 6,313 X

2,446 = 6,313 X

X = 0,387  mg/ml

B. Pembahasan

Kolesterol adalah komponen asam lemak yang terdapat dalam darah. Zat ini sangat diperlukan oleh tubuh untuk proses-proses tertentu bagi kelangsungan hidup. Di antaranya untuk membentuk hormon, membentuk sel, dan merawat sel-sel saraf. Sintesis kolesterol sebgain besar terjadi di dalam hati, selain itu terjadi pula di usus halus, kelenjar adrenal dan testis. Di samping itu juga berasal dari makanan yang diabsorbsikan di usus bersama lipid yang lain yang disintesis dalam usus. Kolesterol diangkut dalam lipoprotein plasma baik sebagai kolesterol maupun ester kolesterol.

Praktikum tentang pengukuran kadar kolesterol ini bertujuan untuk mengetahui prinsip pengukuran kolesterol tersebut dengan menggunakan metode Lieberman – Burchards dan mengetahui kadar kolesterol pada otak, hati, kulit dan daging.

Dari data hasil pengamatan dapat diketahui nilai absorbansi dari masing-masing sampel. Nilai absorbansi dari masing – masing sampel dimasukkan ke dalam persamaan regresi (didapat dari kurva standar kolesterol), dimana persamaannya adalah:

Y= 6,313 X – 0,136

X= Y + 0,136

6,313

Karena ada faktor pengenceran sehingga rumusnya Y x n = 6,313 X – 0,136

Y= absorbansi

X= kadar kolesterol

n= Pengenceran

 

Dari perhitungan dengan memasukan nilai absorbansi sampel maka diperoleh kadar kolesterol pada otak 0,449 mg/ml,  pada daging 0,330  mg/ml, pada kulit 0,387  mg/ml dan pada hati sebesar 0,167 mg/ml. Dari data ini dapat kita lihat bahwa kadar kolesterol terbesar adalah pada sampel otak yaitu 0,449 mg/ml dan terendah pada sampel hati sebesar 0,167 mg/ml.

Kadar kolesterol dalam setiap jenis bahan makanan cukup bervariasi tergantung pada jenis dan macam produknya, bahkan kandungan kolesterol pada setiap bagian/organ tubuh hewan pun berbeda- beda. Secara fisiologi kolesterol penting bagi tubuh, karena merupakan bahan penyusun membran sel, sintesis garam empedu dan prasat (precursor) hormon khususnya kelompok hormon steroid.

Kolesterol disintesis dalam keadaan normal oleh tubuh sejumlah 2 kali dari kadar kolesterol di dalam makanan yang dimakan. Kolesterol yang disintesis diubah menjadi jaringan, hormon dan vitamin yang kemudian beredar ke dalam tubuh melalui darah. Tetapi ada pula kolesterol yang kembali ke dalam hati untuk diubah menjadi garam empedu dan garamnya. Hasil sintesis kolesterol disimpan dalam jaringan tubuh. Tubuh dalam keadaan normal, bila terjadi gangguan dalam konsumsi kolesterol maka akan terjadi mekanisme untuk mempertahankan balance atau keseimbangan kolesterol sebagai mekanisme pertahanan. Namun bila terjadi gangguan dapat berupa penimbunan kolesterol atau derivatnya di arteri menimbulkan penghambatan aliran darah, menyebabkan tekanan darah tinggi dan menyebabkan beberapa penyakit kardiovascular (Linstromberg, 1996 : 409).

 

BAB V

SIMPULAN

A. Simpulan

  1. Prinsip pengukuran kadar kolesterol adalah dengan metode Liberman-Burchards di mana pada prinsipnya menggunakan asal spesifik berupa spektrofotometer di mana sampel telah mengalami pengenceran sesuai volume pengencerannnya masing-masing.
  2. Dari praktikum yang dilakukan diperoleh kadar kolesterol dalam otak 0,449 mg/ml, dalam hati 0,167 mg/ml, dalam daging 0,330  mg/ml dan dalam kulit 0,387  mg/ml, sehingga kadar kolesterol tertinggi ada dalam otak dan kadar kolesterol terendah ada dalam hati.

 

Daftar Pustaka

Anonim.2010.Kolesterol.Diakses tanggal 31 Oktober 2010, jam 09.300 WIB. http://id.wikipedia.org/wiki/Kolesterol

Astuti. 2007. Petunjuk Praktikum Analisis Bahan Biologi. Yogyakarta : Jurdik                       Biologi FMIPA UNY

 

 

Dawiesah, I. S. 1989. Petunjuk Laboratorium Penentuan Nutrien Dalam Jaringan dan Plasma tubuh , Yogyakarta : PAU pangan dan gizi UGM.

 

 

Linstromberg, Walter W. 1966. Organik Chemistry, A Brief Course. Boston ; D.C. Heath ang Company.

 

 

Schunack, Walter; Mayer, Klaus and Haake; Manfred. 1990. Senyawa Obat, Buku Pelajaran Kimia Farmasi. Edisi kedua. (Terjm. Joke R. Wattimena dan Sriwoelan Soebito). Yogyakarta : GMU-Press.

 

 

Siswono.2001.Bahaya dari Kolesterol Tinggi.Diakses tanggal 31 Oktober 2010, jam 09.35 WIB. http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid997059568,35248,

 

 

Yatim, W. 2003. Kamus Biologi. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

 

 

 

 

 




 

PENETAPAN KADAR AIR (METODE OVEN PENGERING) AA

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

A. latar belakang

Air adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Air diperlukan untuk kelangsungan proses biokimiawi organisme hidup, sehingga sangat essensial. (http://id.wikipedia.org/wiki/Air).

Pengukuran kadar air dalam suatu bahan sangat diperlukan dalam berbagai bidang. Salah satu bidang yang memerlukan pengukuran kadar air adalah bidang pertanian . Komoditi pertanian yang cukup penting untuk diketahui kadar airnya adalah beras. Mutu beras terutama ditentukan oleh kadar airnya, semakin tinggi kadar air beras, mutunya semakin jelek. Tingginya kadar air beras dapat berakibat tumbuhnya jamur-jamur penghasil mikotoksin (racun) yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Kadar air juga perlu diketahui untuk biji-bijian yang lain.

Di samping terdapat dalam bahan makanan secara alamiah, air terdapat bebas di alam dalam berbagai bentuk. Air bebas ini sangat penting juga dalam pertanian, pencucian dan sanitasi umum maupun probadi, teknologi pangan dan sebagai air minum.  Air yang digunakan untuk keperluan khusus mungkin harus mengalami perlakuan terlebih dahulu misalnya sterilisasi, pengurangan kesadahan, penurunan BOD dan sebagainya.

Praktikum kali ini adalah untuk mengetahui kadar air dalam suatu bahan makanan seperti kacang hijau, kacang tanah, kacang merah, dan susu. Metode yang digunakan adalah oven pengering. Pengeringan adalah suatu metode untuk mengeluarkan atau menghilangakan sebagian air dari suatu bahan dengan cara menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi panas. Biasanya kandungan air bahan tersebut dikurangi sampai suatu batas agar mikroba tidak dapat tumbuh lagi didalamnya

Prinsip dari metode oven pengering  adalah bahwa air yang terkandung dalam suatu bahan akan menguap bila bahan tersebut dipanaskan pada suhu 105o C selama waktu tertentu. Perbedaan antara berat sebelum dan sesudah dipanaskan adalah kadar air.(Astuti. 2010: 9)

B. Rumusan masalah

  1. Bagaimana prinsip penetapan kadar air dengan metode oven pengering ?
  2. Berapakah kadar air yang terdapat di dalam kacang hijau, kacang tanah, kacang merah, dan susu ?

C. Tujuan

  1. Untuk mengetahui prinsip penetapan kadar air dengan metode oven pengering.
  2. Untuk mengetahui kadar air yang terdapat di dalam kacang hijau, kacang tanah, kacang merah, dan susu.

D. Manfaat

  1. Memberikan pengetahuan tentang prinsip penetapan kadar air dengan metode oven pengering.
  2. Memberikan gambaran umum tentang kadar air yang terdapat di dalam kacang hijau, kacang tanah, kacang merah, dan susu.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Air dan Sifat – Sifat Air

Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 °C). Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik.

Molekul air dapat diuraikan menjadi unsur-unsur asalnya dengan mengalirinya arus listrik. Proses ini disebut elektrolisis air. Pada katoda, dua molekul air bereaksi dengan menangkap dua elektron, tereduksi menjadi gas H2 dan ion hidrokida (OH-). Sementara itu pada anoda, dua molekul air lain terurai menjadi gas oksigen (O2), melepaskan 4 ion H+ serta mengalirkan elektron ke katoda. Ion H+ dan OH- mengalami netralisasi sehingga terbentuk kembali beberapa molekul air. Reaksi keseluruhan yang setara dari elektrolisis air dapat dituliskan sebagai berikut.

Air adalah pelarut yang kuat, melarutkan banyak jenis zat kimia. Zat-zat yang bercampur dan larut dengan baik dalam air (misalnya garam-garam) disebut sebagai zat-zat “hidrofilik” (pencinta air), dan zat-zat yang tidak mudah tercampur dengan air (misalnya lemak dan minyak), disebut sebagai zat-zat “hidrofobik” (takut-air). Kelarutan suatu zat dalam air ditentukan oleh dapat tidaknya zat tersebut menandingi kekuatan gaya tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol) antara molekul-molekul air. Jika suatu zat tidak mampu menandingi gaya tarik-menarik antar molekul air, molekul-molekul zat tersebut tidak larut dan akan mengendap dalam air.

Air menempel pada sesamanya (kohesi) karena air bersifat polar. Air memiliki sejumlah muatan parsial negatif (σ-) dekat atom oksigen akibat pasangan elektron yang (hampir) tidak digunakan bersama, dan sejumlah muatan parsial positif (σ+) dekat atom oksigen. Dalam air hal ini terjadi karena atom oksigen bersifat lebih elektronegatif dibandingkan atom hidrogen—yang berarti, ia (atom oksigen) memiliki lebih “kekuatan tarik” pada elektron-elektron yang dimiliki bersama dalam molekul, menarik elektron-elektron lebih dekat ke arahnya (juga berarti menarik muatan negatif elektron-elektron tersebut) dan membuat daerah di sekitar atom oksigen bermuatan lebih negatif ketimbang daerah-daerah di sekitar kedua atom hidrogen.Air memiliki pula sifat adhesi yang tinggi disebabkan oleh sifat alami kepolarannya.

Air memiliki tegangan permukaan yang besar yang disebabkan oleh kuatnya sifat kohesi antar molekul-molekul air. Hal ini dapat diamati saat sejumlah kecil air ditempatkan dalam sebuah permukaan yang tak dapat terbasahi atau terlarutkan (non-soluble); air tersebut akan berkumpul sebagai sebuah tetesan. Di atas sebuah permukaan gelas yang amat bersih atau bepermukaan amat halus air dapat membentuk suatu lapisan tipis (thin film) karena gaya tarik molekular antara gelas dan molekul air (gaya adhesi) lebih kuat ketimbang gaya kohesi antar molekul air.

Dalam sel-sel biologi dan organel-organel, air bersentuhan dengan membran dan permukaan protein yang bersifat hidrofilik; yaitu, permukaan-permukaan yang memiliki ketertarikan kuat terhadap air. (http://id.wikipedia.org/wiki/Air).

B. Bentuk dan Tipe Air dalam Suatu Bahan

Air yang terdapat dalam suatu bahan makanan terdapat dalam tiga bentuk:

  1. Air bebas, terdapat dalam ruang-ruang antarsel  dan intergranular dan pori-pori yang terdapat pada bahan.
  2. Air yang terikat secara lemah karena terserap (teradsorbsi) pada permukaan koloid makromolekulaer seperti protein, pektin pati, sellulosa. Selain itu air juga terdispersi di antara kolloid tersebut dan merupakan pelerut zat-zat yang ada di dalam sel. Air yang ada dalam bentuk ini masih tetap mempunyai sifat air bebas dan dapat dikristalkan pada proses pembekuan. Ikatan antara air dengan kolloid tersebut merupakan ikatan hidrogen.
  3. Air yang dalam  keadaan  terikat kuat yaitu membentuk hidrat. Ikatannya berifat ionik sehingga relatif sukar dihilangkan atau diuapkan. Air ini tidak membeku meskipun pada suhu 0o F.

Kandungan air dalam bahan makanan ikut menentukan kesegaran dan daya tahan bahan itu sendiri.  Sebagian besar dari perubahan-perubahan bahan makanan terjadi dalam media air yang ditambahkan atau berasal dari bahan itu sendiri.  Menurut derajat keterikatan air dalam bahan makanan atau bound water dibagi menjadi 4 tipe, antara lain :

  1. Tipe I adalah tipe molekul air yang terikat pada molekul-molekul air melalui suatu ikatan hydrogen yang berenergi besar.  Molekul air membentuk hidrat dengan molekul-molekul lain yang mengandung atom-atom O dan N seperti karbohidrat, protein atau garam.
  2. Tipe II adalah tipe molekul-molekul air membentuk ikatan hydrogen dengan molekul air lain, terdapat dalam miro kapiler dan sifatnya agak berbeda dari air murni.
  3. Tipe III adalah tipe air yang secara fisik terikat dalam jaringan matriks bahan seperti membran, kapiler, serat dan lain-lain.  Air tipe inisering disebut dengan air bebas.
  4. Tipe IV adalah tipe air yang tidak terikat dalam jaringan suatu bahan atau air murni, dengan sifat-sifat air biasa. (F.G. Winarno, 1999 : 3 – 14)

C. Kadar Air Dalam Bahan Makanan

Kadar air adalah perbedaan antara berat bahan sebelum dan sesudah dilakukan pemanasan. Setiap bahan bila diletakkan dalam udara terbuka kadar airnya akan mencapai keseimbangan dengan kelembaban udara di sekitarnya. Kadar air bahan ini disebut dengan kadar air seimbang. Setiap kelembaban relatif tertentu dapat menghasilkan kadar air seimbang tertentu pula. Dengan demikian dapat dibuat hubungan antara kadar air seimbang dengan kelembaban relatif.

Aktivitas air dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Aw                        = ERH/100

Aw                       = aktivitas air

ERH          = kelembaban relatif seimbang

Bila diketahui kurva hubungan antara kadar air seimbang dengan kelembaban relatif pada hakikatnya dapat menggambarkan pula hubungan antara kadar air dan aktivitas air. Kurva ini sering disebut kurva Isoterm Sorpsi Lembab (ISL). Setiap bahan mempunyai ISL yang berbeda dengan bahan lainnya. Pada kurva tersebut dapat diketahui bahwa kadar air yang sama belum tentu memberikan Aw yang sama tergantung macam bahannya. Pada kadar air yang tinggi belum tentu memberikan Aw yang tinggi bila bahannya berbeda. Hal ini dikarenakan mungkin bahan yang satu disusun oleh bahan yang dapat mebgikat air sehingga air bebas relatif menjadi lebih kecil dan akibatnya bahan jenis ini mempunyai Aw yang rendah.

D. Penentuan Kadar Air Dalam Bahan Makanan

Kadar air dalam makanan dapat ditentukan dengan berbagai cara:

  1. Metode Pengeringan (Thermogravimetri)

Prinsipnya menguapkan air yang ada dalam bahan dengan jlaan pemanasan. Kemudian menimbang bahan sampai berat konstan berarti semua air sudah diuapkan. Cara ini relatif mudah dan murah. Kelemahannya antara lain:

  1. Bahan lain di samping air juga ikut menguap dan ikut hilang bersama dengan uap misalnya alkohol, asam asetat, minyak atsiri, dan lain-lain.
  2. Dapat terjadi reaksi selama pemanasan yang menghasilkan air atau zat mudah menguap lain. Contoh gula mengalami dekomposisi atau karamelisasi, lemak mengalami oksidasi dan sebagainya.
  3. Bahan yang mengandung bahan yang dapat mengikat air secara kuat sulit melepaskan airnya meskipun sudah dipanaskan.
  4. Metode Destilasi (Thermovolumetri)

Prinsip penentuan kadar air dengan destilasi adalah menguapkan air demgan “pembawa” cairan kimia yang mempunyai titik didih lebih tinggi daripada air dan tidak dapat campur dengan air serta mempunyai berat jenis lebih rendah daripada air. Zat kimia yang dapat digunakan antara lain: toluen, xylen, benzen, tetrakhlorethilen dan xylol.

Cara penentuannya adalah dengan memberikan zat kimia sebanyak 75-100 ml pada sampel yang diperkirakan mengandung air sebanyak 2-5 ml, kemudain dipanaskan sampai mendidih. Uap air dan zat kimia tersebut diembunkan dan ditampung dalam tabung penampung. Karena berat jenis air lebih besar daripadazat kimia tersebut maka air akan berada dibagian bawah pada tabung penampung. Bila pada tabung penampung dilengkapi skala maka banyaknya air dapat diketahui langsung. Alat yang dipakai sebagai penampung ini antara lain tabung Strak-Dean dan Sterling-Bidwell atau modifikasinya (Gambar 2).

  1. Metode Khemis
    1. Cara Titrasi Karl Ficher
    2. Cara Kalsium Karbid
    3. Cara Asetil Klorida
    4. Metode Fisis

Ada beberapa cara penentuan kadar air cara fisis antara lain:

  1. Berdasarkan tetapan dielektrikum
  2. Berdasarkan konduktivitas listrik (daya hantar listrik) atau resistansi
  3. Berdasarkan resonansi nuklir magnetic
  4. Metode khusus misalnya dengan kromatografi, Nuclear Magnetic-Resonance (Slamet Sudarmaji, 1989: 57-70).

 

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Alat    : Bahan   :
  1. Cawan (crusible) porselin dengan penutup
  2. Desikator
  3. Tang penjepit
  4. Oven pengering
  5. Timbangan analitik
  1. Kacang hijau
  2. Kacang tanah
  3. Kacang merah
  4. Susu

B. Cara Kerja

1. Cawan porselin yang sudah bersih dikeringkan di dalam oven pengering pada suhu 105o C selama 1 jam dengan tutup dilepas.

2.  Kemudian cawan porselin diambil dengan menggunakan tang penjepit dan didinginkan di dalam desikator dengan tutup dilepas selama 1 jam.

3.  Setelah dingin, cawan porselin ditimbang dalam keadaan tertutup (ms).

4.  Ditimbang sampel ± 2 gram dengan menggunakan cawan porselin (ms1) dan dikeringkan di dalam oven pengering pada suhu 105o C selama 8 jam atau sampai beratnya tetap denga tutup dilepas.

5.  Dengan menggunakan tang penjepit cawan porselin ditutup, kemudian didinginkan di dalam desikator selama 30 menit dengan tutup dilepas. Setelah dingin cawan porselin ditutup kembali dan ditimbang (ms2).

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Sampel Berat cawan + tutup ms (gr) Berat cawan + tutup + sampel sebelum dikeringkan ms1 (gr) Berat cawan + tutup + sampel sesudah dikeringkan ms2 (gr) Berat sampel

ms1 – ms (gr)

Kadar air (%)

(ms1 - ms2 / ms1 – ms ) x 100%

Susu 102,762 104,087 104,108 2,025 -1,037%
Kacang hijau 98,838 100,956 100,868 2,118 4,155%
Kacang tanah 107,882 109,880 109,773 1,998 5,355%
Kacang merah 110,086 112,084 111,923 1,998 8,058%

B. Pembahasan

Air merupakan kebutuhan yang  utama bagi semua kehidupan. Air diperlukan baik oleh manusia, hewan maupun tumbuhan untuk proses biokimiawinya sehingga sangat essensial. Praktikum kali ini adalah penentuan kadar air dengan bahan yang digunakan yaitu antara lain susu, kacang hijau, kacang tanah dan kacang merah.

Praktikum ini adalah bertujuan untuk mengetahui kadar air dalam suatu sampel. Sampel yang digunakan dalam praktikum ini adalah susu, kacang hijau, kacang tanah dan kacang merah. Penetapan kadar air dalam sampel – sampel  tersebut dilakukan dengan menggunakan metode oven pengering, yang mana pengeringan tersebut dengan cara memasukkan sampel ke dalam oven pengering pada suhu 105˚ C selama 8 jam atau sampai beratnya konstan atau tetap.  Selisih berat sebelum dan sesudah pengeringan adalah banyaknya air yang diuapkan (kadar air).

Dari data berat yang kita peroleh antara lain ms (berat cawan dan tutup), ms1 (berat cawan + tutup + sampel sebelum dikeringkan), ms2 (berat cawan + tutup + sampel sesudah dikeringkan), maka dapat diketahui kadar air sampel tersebut yaitu dengan persamaan:

kadar air = (ms1 – ms2 / ms1 – ms) x 100%

Keterangan :

Sampel                  = ms1 – ms

Selain itu kita juga bisa mencari berat keringnya yaitu dengan rumus

Bahan kering (%)  = 100 – kadar air

Dari data yang diperoleh dan dimasukkan dalam perhitungan maka didapatkan kadar air pada sampel susu adalah -1,037%, kacang hijau 4,155%, kacang tanah 5,355% dan kacang merah 8,058%. Dari data kadar ini diketahui bahwa kadar air tertinggi yaitu pada sampel kacang merah sebesar 8,058% sedangkan yang terendah adalah pada sampel susu sebesar -1,037%. Dari kadar air ini dapat dicari besarnya berat kering dan didapatkan data bahwa berat kering pada sampel susu adalah 101,037%, kacang hijau 95,845%, kacang tanah 94,645% dan kacang merah 91,942%. Dari data ini maka dapat disimpulkan bahwa kadar air berbanding terbalik dengan berat kering.

Pada sampel susu didapatkan kadar air yang negatif, hal ini mungkin disebabkan karena adanya kesalahan prosedur salah satunya mungkin disebabkan karena kurang ketelitian dalam melakukan penghitungan, penimbangan, dan metode pemanasan.

Perbedaan kadar air dalam suatu bahan disebabkan karena perbedaan bahan, metode dan suhu serta proses penyimpanannya Selain itu perbedaan ini dapat disebabkan karena pengaruh alat-alatnya seperti timbangan analitik yang sulit stabil dan karena bahan yang digunakan sudah terkontaminasi dengan bahan lain ketika penyimpanan atau ketika berada dalam desikator.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengeringan ada 2 golongan, yaitu:

1. Faktor yang berhubungan dengan udara pengering

Yang termasuk golongan ini adalah: Suhu (Makin tinggi suhu udara maka pengeringan akan semakin cepat),  Kecepatan aliran udara pengering (Semakin cepat udara maka pengeringan akan semakin cepat), Kelembaban udara (Makin lembab udara, proses pengeringan akan semakin lambat), Arah aliran udara (Makin kecil sudut arah udara  terhadap posisi bahan, maka bahan semakin cepat kering)

2. Faktor yang berhubungan dengan sifat bahan

Yang termasuk golongan ini adalah: Ukuran bahan (Makin kecil ukuran benda, pengeringan akan makin cepat), Kadar air (Makin sedikit air yang dikandung, pengeringan akan makin cepat).

Untuk mempercepat penguapan air serta menghindari terjadinya reaksi yang menyebabkan terjadinya air ataupun reaksi yang lain karena pemanasan maka dapat dilakukan pemanasan dengan suhu rendah dan tekanan vakum. Dengan demikian akan dihasilkan  kadar air yang sebenarnya.

Untuk bahan-bahan yang mengandung kadar gula tinggi maka pemanasan dengan suhu 100o C dapat mengakibatkan pergerakan pada permukaan bahan. Sehingga terlihat masih memiliki berat kering yang cukup tinggi.

 

BAB V

SIMPULAN

A. Simpulan

  1. Prinsip dari metode oven pengering adalah  bahwa air yang terkandung dalam suatu bahan akan menguap bila bahan tersebut dipanaskan pada suhu 105o C selama waktu tertentu. Perbedaan antara berat sebelum dan sesudah dipanaskan adalah kadar air
  2. Dari praktikum yang dilakukan diperoleh kadar air untuk sampel susu adalah -1,037%, kacang hijau 4,155%, kacang tanah 5,355% dan kacang merah 8,058%.

 

 

Daftar Pustaka

Anonim. 2010. Air. Diakses tanggal 26 November 2010, jam 09.00 WIB. http://id.wikipedia.org/wiki/Air

Astuti. 2007. Petunjuk Praktikum Analisis Bahan Biologi. Yogyakarta : Jurdik             Biologi FMIPA UNY

Fardiaz, Srikandi, FG. Winarno, dan Dedi Fardiaz. 1980. Pengantar Teknologi Pangan. Jakarta : Gramedia

Sudarmadji, Slamet, Suhardi dan Bambang Haryono. 1989. Analisis Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta : Liberti Yogyakarta

 

 

 

UNIT DAN CARA PEMENCARAN SERTA EVOLUSI ALAT – ALAT PEMENCARAN

Standar

Unit Atau Bagian Tumbuhan Yang Dipencarkan

Pada umumnya bagian tumbuhan yang sering dipencarkan adalah biji atau buah :

Biji merupakan embrio dengan lapisan cadangan makanan yang akan tumbuh menjadi individu tumbuhan baru.

Buah merupakan organ tumbuhan untuk pembiakan yang mengandung biji.

Cara Pemencaran

Untuk kepentingan penyebaran keturunannya, tanaman telah melakukan mekanisme alami dengan membentuk struktur morfologis tertentu maupun melangsungkan proses-proses tertentu pada bijinya. Berbagai penelitian membuktikan adanya interaksi antara tanaman dengan agen tertentu dalam mekanisme penyebaran bijinya. Agen pembantu penyebaran biji ini dapat berupa agen biotik (burung, mamalia, serangga) maupun abiotik (angin, air, gravitasi). Van der Pijl (1982) dalam Griffin dan Sedgley (1989) menjumpai adanya karakteristik tertentu pada tipe-tipe buah dan biji yang diduga merupakan mekanisme alami untuk menyesuaikan diri dengan agen penyebar buah/bijinya.

Cara pemencaran biji maupun buah dibagi menjadi 5,yaitu :

Anemokori

Suatu cara penyebaran atau pemecaran suatu biji/buah suatu tumbuhan, dimana pemencaran ini di bantu oleh bantuan lingkungan abiotik yaitu angin.

Di kawasan hutan hujan tropika, pemencaran oleh angin merupakan cara yang efektif untuk menyebarkan buah dan biji, nomor dua setelah pemencaran oleh binatang.

Pemencaran biji/buah oleh bantuan angin mempunyai ciri-ciri:

biji kecil dan ringan, contoh : biji anggrek dan spora jamur

biji berbulu atau berambut, contoh : alang-alang (Imperata cylindrica) dan kapok (Ceiba pentandra). Angin bisa membantu kapas atau kapuk karena bijinya mempunyai serat-serat yang bisa membantunya untuk terbang. Biji alang-alang mudah tersebar pada wilayah yang sangat luas karena ditiup angin, dan mampu tumbuh pada tempat yang basah maupun kering, pada tanah yang subur atau tandus sekalipun. Karena biji alang-alang berbulu dan berambut.

biji bersayap, contoh : mahoni (Sweitenia mahagoni) dan damar (Agathis alba) buah bersayap, contoh : meranti (Shorea sp) dan tanaman suku Dipterocarpaceae

biji terpencar karena tangkainya tergoyang angin, contoh : Opium (Popover somniferum)

Entomokori

Entomokori adalah  pemencaran biji atau buah dengan perantaraan serangga. Pemencaran oleh binatang seperti biasa terjadi pada buah-buah yang memiliki bagian-bagian yang banyak mengandung gula atau bahan makanan lainnya. Ciri tumbuhannya: biji kecil dan mengandung lemak contoh : wijen ( Sesamum sp ),Tembakau (Nikotiana tabacum).

Apabila disebarkan oleh semut cirri – cirinya yaitu :

Tanaman tersebut mempunyai elaisoma yang mengandung asam risinolat dengan gugus oksi selain menarik semut juga memberikan konsumsi vitamin, lemak, tepung dll.

Bagian elaisoma dimakan sedangkan bagian biji yang keras dibenamkan dalam terowongan sarang atau dalam celah-celah.

Ornithokori

Ornithokori merupakan penyebaran biji dengan agen burung. Tanaman yang penyebaran bijinya dibantu oleh burung mempunyai ciri-ciri

Buah membentuk bagian edible dengan warna yang menarik,

Buah memproduksi mekanisme tertentu (warna yang tidak menarik/rasa yang tidak enak) untuk menghindari termakannya buah yang belum masak,

Biji mempunyai mekanisme perlindungan untuk menghindari kerusakan saat berada dalam pencernaan agen,

Buah terbuka, tidak terselubung oleh kelopak, dan

Pada buah yang keras, biji bertipe exposed

mekanisme penyebaran biji oleh burung dapat ditempuh melalui 3 cara yaitu :

Epizoochory, terbawanya biji secara langsung oleh tubuh burung,

Synzoochory, jika biji terbawa dalam paruh atau lambung burung, dan

Endozoochory, jika biji melalui proses pencernaan burung terlebih dahulu sebelum akhirnya disebarkan.

Burung mempunyai penglihatan tetrakromatik yang dapat membedakan permukaan warna dalam kisaran ultraviolet (300-400) membuat  lebih mudah mendeteksi buah-buahan yang tertutupi daun-daunan (Osari dan Vorobyev, 1996 dalam Corlett, 1998, Schmid, 2002).

Contoh tumbuhan yang penyebaran biji menggunakan perantara burung : Benalu, Fiscus benjamina (Beringin),Fiscus deltoidea (Pohon ara),Cemara aroila

Hidrokori

Hidrokori adalah penyebaran biji/buah dengan bantuan air. Bijinya mempmyai ciri ringan dan embrio/lembaganya mempunyai pelindung yang baik.

Tanaman yang disebarkan dengan cara ini biasanya mempunyai struktur buah dengan 3 lapis kulit:

eksokarp (lapisan terluar), licin dan berkilat dan kedap air,

mesokarp (lapisan tengah), tebal dan banyak rongga udara sehingga mengapung di air,

endokarp (lapisan dalam) yang keras dan kuat sebagai pelindung lembaga/embrio.

Contohnya : kelapa (Cocos nucifera), nyamplung (Calophylum sp).