PENGUKURAN KADAR KOLESTEROL (METODE LIEBERMAN-BURCHARDS)

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kolesterol adalah metabolit yang mengandung lemak sterol (bahasa Inggris: waxy steroid) yang ditemukan pada membran sel dan disirkulasikan dalam plasma darah. Merupakan sejenis lipid yang merupakan molekul lemak atau yang menyerupainya. Kolesterol ialah jenis khusus lipid yang disebut steroid. Steroids ialah lipid yang memiliki struktur kimia khusus. Struktur ini terdiri atas 4 cincin atom karbon. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kolesterol)

Kolesterol merupakan unsur makanan yang banyak dijumpai dalam bahan makanan sehari-hari yang berasal dari tumbuhan maupun dari produk hewan. Kadar kolesterol dalam setiap jenis bahan makanan khususnya yang berasal dari produk hewan bervariasi tergantung jenis dan macam produk hewan. Kandungan kadar kolesterol pada setiap bagian tubuh hewan berbeda, ada  bagian yang sangat banyak mengandung kolesterol dan bagian lain sebaliknya. Sebagai  contoh pada otak, hati dan kuning telur memiliki kadar kolesterol yang sangat tinggi. Kolesterol secara fisiologi penting bagi tubuh, karena merupakan bahan untuk membangun membran sel dan hormon-hormon yang memiliki peranan vital khususnya kelompok hormon steroid.

Tubuh manusia dan hewan yang normal akan berusaha memelihara konsentrasi plasma kolesterol dengan cara mengatur sintesis dan ekskresi kolesterol. Kolesterol yang melebihi kebutuhan tubuh akan dieliminir melalui empedu, tetapi walapun begitu jika pasok kolesterol dari makanan berlebih yang akhirnya melebihi kebutuhan tubuh, maka akan berakibat kurang baik bagi tubuh dan dapat menimbulkan berbagai gangguan fisiologi seeperti artheroskerosis yang manifestasinya dapat menjadi penyakit jantung koroner atau stroke. Kolesterol merupakan substansi lemah, oleh karena itu kolesterol tidak larut dalam air, dapat diekstraksi  dari jaringan dengan kloroform, eter, benzena, dan alkohol panas.

Dari uraian di atas maka dilakukan praktikum tentang pengukuran kadar kolesterol dengan harapa bahwa kadar kolesterol dari sampel yang digunakan bisa diketahui. Sampel yang digunakan pada praktikum ini adalah otak, kulit, hati, dan daging. Untuk mengetahui kandungan kolesterol dalam berbagai bahan makanan seperti sampel di atas, dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode pengukuran baik secara kualitatif maupun kuantitatif dari metode yang sederhana sampai metode yang kompleks. Tentu saja setiap metode memiliki kelebihaan dan kekurangan, oleh karena itu dalam tulisan ini akan disajikan pengukuran kadar koleterol dengan metode Lieberman-Burchards yang menggunakan alat spesifik berupa spektrofotometer.

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana prinsip pengukuran kadar kolesterol dengan menggunakan metode Liebermen-Burchards ?
  2. Berapakah kadar kolesterol dalam otak, kulit, hati dan daging ?

C. Tujuan

  1. Untuk mengetahui prinsip pengukuran kadar kolesterol dengan menggunakan metode Liebermen-Burchards.
  2. Untuk mengetahui kadar kolesterol dalam  otak, kulit, hati, dan daging.

D. Manfaat

  1. Memberikan pengetahuan tentang prinsip pengukuran kadar kolesterol dengan menggunakan metode Liebermen-Burchards.
  2. Memberikan gambaran umum tentang kadar kolesterol dalam  otak, kulit, hati, dan daging.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kolesterol

Kolesterol merupakan sterol yang paling banyak terdapat dalam badan manusia, terutama pada otak, jaringan syaraf, cairan empedu dan darah. Senyawa ini merupakan penyusun utama batu empedu. Kolestrol banyak dijumpai pada lemak binatang, tetapi tidak pernah ditemukan pada lemak tumbuhan. Tumbuhan mempunyai sterol yang disebut fitosterol.

Kolesterol merupakan senyawa yang memiliki inti empat cincin siklopentano – fenantren. Termasuk lemak dengan daya larut yang sangat kecil dalam air. Kadarnya dalam plasma darah 150-200mg/ml, sekitar 2x kadar glukosa darah. Dalam plasma darah 30% berikatan dengan lipoprotein yang mampu menambah daya larutnya dalam darah. Sebanyak 70% lagi kolesterol darah berada berupa kolesterol ester. Kolesterol juga banyak terdapat dalam empedu, dengan kadar 390mg/100ml (Yatim. 2003: 205). Kolesterol tidak larut dalam air tetapi dapat diekstraksi dari jaringan dengan kloroform, eter, benzena dan alkohol panas. Kolesterol termasuk senyawa steroida dengan rumus C27H45OH.

Kebanyakan kolesterol diet ada dalam bentuk teresterkan. Esterkolesterol yang ada ditemukan oleh empedu lalu dihidrolisis oleh esterase kolesterol pankreas.

Ester kolesterol + H2O                            kolesterol + asam lemak (Astuti. 2010: 16).

Secara umum kolesterol merupakan derivate lemak yang banyak dijumpai dalam bahan makanan khususnya yang berasal dari hewan. Kadar kolesterol dalam setiap jenis bahan makanan cukup bervariasi tergantung pada jenis dan macam produknya, bahkan kandungan kolesterol pada setiap bagian/organ tubuh hewan pun berbeda- beda. Secara fisiologi kolesterol penting bagi tubuh, karena merupakan bahan penyusun membran sel, sintesis garam empedu dan prasat (precursor) hormon khususnya kelompok hormon steroid. Namun demikian, kelebihan kolesterol dapat menyebabkan timbulnya berbagai gangguan kesehatan, salah satunya adalah atherosclerosis yaitu timbunan kolesterol pada pembuluh darah khususnya pada tunica media arteri. Atherosklerosis merupakan predisposisi infark miokard, stroke, trombosis otak dan penyakit serius lainnya.

B. Jenis Kolesterol

Setiap orang memiliki kolesterol di dalam darahnya, di mana 80% diproduksi oleh tubuh sendiri dan 20% berasal dari makanan. Kolesterol yang diproduksi terdiri atas 2 jenis yaitu :

  1. Kolesterol LDL, adalah kolesterol jahat, yang bila jumlahnya berlebih di dalam darah akan diendapkan pada dinding pembuluh darah membentuk bekuan yang dapat menyumbat pembulun darah.
  2. Kolesterol HDL, adalah kolesterol baik, yang mempunyai fungsi membersihkan pembuluh darah dari kolesterol LDL yang berlebihan. Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan suatu tanda yang baik sepanjang kolesterol LDL kurang dari 150 mg/dl.

Selain itu ada juga Trigliserida. Lemak ini terbentuk sebagai hasil dari metabolisme makanan, bukan saja yang berbentuk lemak tetapi juga makanan yang berbentuk karbohidrat dan protein yang berlebihan, yang tidak seluruhnya dibutuhkan sebagai sumber energi. Kadar trigliserida ini akan meningkat bila kita mengkonsumsi kalori berlebihan, lebih besar daripada kebutuhan kita. (http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid997059568,35248,)

Kolesterol LDL sering disebut dengan kolesterol ‘jahat’, karena peningkatan kadar kolesterol ini dalam darah dihubungkan dengan peningkatan resiko penyakit jantung koroner. Kolesterol LDL akan berakumulasi di dinding arteri sehingga membentuk semacam plak yang menyebabkan dinding arteri menjadi kaku dan rongga pembuluh darah menyempit. Proses ini dikenal dengan nama atherosklerosis. Kolesterol HDL sebaliknya sering disebut dengan kolesterol ‘baik’ karena kolesterol HDL mencegah terjadinya atherosklerosis dengan cara mengeluarkan kolesterol ‘jahat’ dari dinding arteri dan mengirimkannya ke hati. Jadi, bila kadar kolesterol LDL tinggi sedangkan kadar kolesterol HDL rendah maka merupakan faktor resiko terjadinya atherosklerosis. Sebaliknya yang diharapkan adalah kadar kolesterol LDL rendah dan kadar kolesterol HDL yang tinggi.

Kadar kolesterol baik LDL maupun HDL juga dipengaruhi oleh faktor herediter atau keturunan. Pada pasien dengan familial hypercholesterolemia (FH), terdapat pengurangan jumlah yang signifikan dari reseptor kolesterol LDL dalam hatinya.Pasien ini juga akan rentan menderita atherosklerosis dan serangan jantung pada usia muda. Makanan yang banyak mengandung lemak jenuh dan kolesterol akan meningkatkan kadar kolesterol LDL dalam darah. Lemak dibagi menjadi lemak jenuh dan lemak tak jenuh berdasarkan pada struktur kimianya. Lemak jenuh terutama berasal dari daging dan produk olahan susu yang akan meningkatkan kadar kolesterol darah. Beberapa minyak tumbuhan yang dibuat dari buah kelapa, sawit, dan cokelat juga tinggi kadar lemak jenuhnya. Menurunkan kadar kolesterol LDL saat ini merupakan fokus utama dalam mencegah atherosklerosis dan serangan jantung. Beberapa dokter dan ahli percaya bahwa keuntungan menurunkan kadar kolesterol LDL antara lain :

  • Mengurangi dan menghentikan pembentukan plak kolesterol pada dinding pembuluh darah.
  • Memperlebar rongga arteri.
  • Mencegah pecahnya plak kolesterol yang mempunyai resiko membentuk gumpalan darah/trombus (faktor resiko stroke)
  • Menurunkan resiko serangan jantung.
  • Menurunkan resiko stroke.

C. Cara Sel – Sel Tubuh Mengambil Kolesterol Dari LDL

Pada permukaan molekul LDL terdapat protein yang disebut Apolipoprotein B- 100 dan Apolipoprotein E. Hampir semua sel – sel tubuh memiliki reseptor. Sel liver memiliki reseptor yang dapat mengikat Apolipoprotein E Yang terdapat dipermukaan LDL. Sel – sel yang lain (selain sel liver) memiliki reseptor yang dapat mengikat Apolipoprotein B-100 yang terdapat dipermukaan LDL. Ikatan antara reseptor sel dan Apolipoprotein LDL akan membentuk suatu kompleks ( LDL + Reseptor sel ) yang kernudian akan masuk ke dalam sel (internalisasi) dengan cara endositosis, yaitu membran plasma sel akan melekuk ke dalam sehingga kompleks (LDL + Reseptor sel) ini akan masuk kernudian menyatu membentuk suatu vesikel endositik.

Vesikel – vesilkel yang mengandung LDL ini kemudian akan berfusi (menyatu) dengan lisosom (yang mengangkut bermacan-macam enzim pencernaan). Kompleks (LDL + reseptor) ini akan diurai oleh enzim – enzim pencernaan yang terdapat dalam lisosom ini, antara lain :

  • Protein LDL akan diurai menjadi asam arnino bebas
  • Ester kolesterol akan diurai nenjadi kolestrol bebas dan asam lemak linoleat

Reseptor sel biasanya utuh kembali ke membrane plasma sel. Waktu perputaran (turn over) reseptor sel adalah kira-kira 10 menit, sehingga dalam 1 hari reseptor sel ini akan membawa 144 partikel LDL ke dalam sel. Kolesterol bebas kemudian dipakai untuk sintesis membrane sel sebagian juga mengalami esterifikasi dengan asam lemak oleat atau palmitoleat (asarn lemak tak jenuh tunggal) untuk disimpan di dalam sel. Asam lemak ester kolesterol di LDL biasanya adalah linoleat (asam lemak tak jenuh ganda)

D. Cara Tubuh Membuang Kolesterol

Jaringan mamalia tidak memiliki enzim vang mampu mengkatabolis inti kolesterol, sehingga kolesterol tidak dapat dirusak oleh oksidasi menjadi karbon dioksida dan air. Oleh sebab itu kolesterol hanya dapat dibuang dari tubuh melaui sintesis asam ernpedu yang banyak, karena sebagian besar bahan dasar asam empedu adalah kolesterol. Untuk mensintesis asam empedu yang banyak, berarti asam empedu yang terdapat di kantong, empedu harus dikosongkan terus – menerus, yakni dibuang melalui tinja.

E. Fungsi Kolesterol

Tubuh kita menggunakan kolesterol untuk membuat:

  1. Hormon seks, sangat penting bagi perkembangan dan fungsi organ seksual.
  2. Hormon korteks adrenal,m penting untuk metabolisme dan keseimbangan garam dalam tubuh.
  3. Vitamin D, penting dalam penyerapan Ca.
  4. Garam empedu, membantu usus menyerap lemak.
  5. Membran sel dan lapisan luar lipoprotein.

F.  Pengukuran Kadar Kolesterol

Untuk mengetahui kandungan kolesterol dalam berbagai bahan makanan, dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode pengukuran baik secara kualitatif maupun kuantitatif dari metode yang sederhana sampai metode yang kompleks. Tentu saja setiap metode memiliki kelebihaan dan kekurangan, oleh karena itu dalam tulisan ini akan disajikan pengukuran kadar koleterol dengan metode Lieberman-Burchards yang menggunakan alat spesifik berupa spektrofotometer. (Astuti. 2010: 17)

Pada metode ini, kolesterol total berupa kolesterol bebas dan ester kolesterol diekstraksi. Jumlah kiolesterol ditentukan kolorimetris dengan menerapkan reaksi Liebermann-Burchard dan dibandingkan dengan larutan standard kolesterol yang diketahui (Dawiesah, 1989 : 99). Namun dalam kegiatan ini menggunakan larutan standar sebagai pembanding. Reaksi Liebermann-Burchard merupakan dasar penentuan fotometri kolesterol. Cuplikan kolesterol dilarutkan dalam kloroform direaksikan dengan asetat anhidrat dan sedikit asam sulfat pekat akan terjadi pewarnaan yang khas untuk sterol tunggal (Schunack,et al., 1990 : 81). Pada reaksi Liebermann-Burchard larutan akan berubah warna dengan segera menjadi merah dengan cepat akan menjadi biru-violet (Kolekalsiterol kolesterol) dan untuk selanjutnya akan menjadi hijau (ergokalsiferol) ( Schunack, et al., 1990 : 634).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Alat    : Bahan    :
  1. Beaker glass
  2. Tabung reaksi
  3. Tabung sentrifuge
  4. Penggerus porselin (mortal)
  5. Batang pengaduk
  6. Pipet ukur
  7. Filler
  8. Waterbath Pipet
  9. Kompor listrik/kompor gas
  10. Sentrifuge
  11. Timbangan elektrik
  12. Spektrofotometer
  13. Tabung cuvet
  14. Rak tabung reaksi
  15. Vortex
  1. Alkohol absolut
  2. Aseton
  3. Kloroform
  4. Asam sulfat pekat
  5. Asetat anhidrat
  6. Sampel (otak, kulit, daging , dan hati ayam)

B. Cara Kerja

  1. Sampel 1 mL/1 gr dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge yang telah berisi 10 mL aseton:alkohol (1:1) kemudian diaduk sampai rata.
  2. Tabung yang berisi bahan tadi dipanaskan pada waterbath sampai mendidih. Tabung kemudian diangkat dan didinginkan dalam temperatur kamar, setelah dingin disentrifuge pada kecepatan 1750 rpm selama 15 menit.
  3. Supernatan (bagian bening) yang terbentuk dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian diuapkan dengan dipanaskan dalam waterbath sampai kering dan akan terbentuk pasta (residu).
  4. Residu dilarutkan dalam kloroform dan dihomogenisasi (langkah ini merupakan langkah pengenceran yang disesuaikan dengan volume pengenceran dari masing-msaing sampel yang diperiksa. Setelah diencerkan sampel ditambah dengan 2 mL campuran asam sulfat dan asetat anhidrat (1:30)).
  5. Larutan residu yang telah diencerkan tadi ditempatkan pada ruang gelap selama 5 menit hingga terbentuk warna hijau. Hasil warna yang diperoleh dibaca dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 680 nm.
  6. Membuat larutan blanko yang berisi 2 mL kloroform dan 2 mL campuran asam sulfat dan asetat anhidrat (1:30)
  7. Hasil pembacaan dimasukkan ke dalam persamaan regresi dari kadar kolesterol standart.

a) Residu otak : 60 kali

  1. Residu + 3 mL kloroform (dihomogenisasi)
  2. 0,1 mL larutan residu + 1,9 mL kloroform + 2 mL campuran asam sulfat dan asetat anhidrat (1:30) (dihomogenisasi)

b) Residu hati : 40 kali

  1. Residu + 2 mL kloroform (dihomogenisasi)
  2. Menambahkan larutan Lowry A 0,5 ml pada masing – masing tabung, divortex dan dibiarkan 30 menit

c) Residu kulit dan daging : 10 kali

  1. Residu + 2 mL kloroform (dihomogenisasi)
  2. 0,4 mL larutan residu + 1,6 mL kloroform + 2 mL campuran asam sulfat dan asetat anhidrat (1:30) (dihomogenisasi)

d) Pembuatan larutan kolesterol standar

  1. Membuat larutan kolesterol murni dengan konsentrasi 2 mg/mL, sebanyak 10 mL dan diencerkan dengan 40 mL kloroform sehingga terbentuk larutan dengan konsentrasi 0,4 mg/nL (larutan).
  2. Larutan tadi diambil 20 mL dimasukkan tabung reaksi dan ditambah kloroform 20 mL sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 0,2 mg/mL (larutan B). dari larutan B diambil masing-masing 9 mL, 7 mL, 6 mL, 5 mL, 4 mL, 2 mL. dari pengenceran larutan B ini akan diperoleh larutan dengan konsentrasi 0,18; 0,14; 0,12; 0,10; 0,08; 0,06; 0,04 mg/mL.
  3. Larutan tadi diambil lagi sebanyak 30 mL (larutan A). dari larutan A ini diambil 8, 7, 6, 5, 4 mL. Masing-masing dimasukkan ke dalam larutan enam konsentrasi 0,32; 0,28; 0,24; 0,20 dan 0,16 mg/mL
  4. Larutan standart tersebut masing-masing diambil 3 mL dan ditambahkan 3 mLasetat danhidrat – asm sulfat 30: 1, ditempatkan pada ruangan yang gelap selama 5 menit hingga larutan menjadi hijau, diukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang  680 nm.

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

  1. Hasil percobaan
No. Sampel Absorbansi (nm)
1 Otak 0,045
2 Kulit 0,231
3 Hati 0,023
4 Daging 0,195
  1. Kurva standar kolesterol
Larutan B (ml) Kloroform (ml) Konsentrasi (mg/ml) Absorbansi 680
9 1 0,18 1,2
7 3 0,14 0,9
6 4 0,12 0,7
5 5 0,10 0,4
4 6 0,08 0,3
3 7 0,06 0,2
2 8 0,04 0,1

Larutan A (ml) Kloroform (ml) Konsentrasi (mg/ml) Absorbansi 650
7 3 0,28 1,6
6 4 0,24 1,1
5 5 0,20 1,4
4 6 0,16 0,7


3.  Analisis

Y= 6,313 X – 0,136

X= Y + 0,136

6,313

Karena ada faktor pengenceran sehingga rumusnya Y x n = 6,313 X – 0,136

Y= absorbansi

X= kadar kolesterol

n= Pengenceran

Sehingga kadar kolesterol pada sampel:

Sampel Otak

Y x n = 6,313 X – 0,136

0,045 x 60 = 6,313 X – 0,136

2,7 + 0,136 = 6,313 X

2,836 = 6,313 X

X = 0,449 mg/ml

  1. Hati

Sampel Hati

Y x n = 6,313 X – 0,136

0,023 x 40 = 6,313 X – 0,136

0,92  + 0,136= 6,313 X

1,056= 6,313 X

X = 0,167 mg/ml

Daging dan kulit

Sampel daging

Y x n = 6,313 X – 0,136

0,195 x 10 = 6,313 X – 0,136

1,95 + 0,136= 06,313 X

2, 086= 6,313 X

X = 0,330  mg/ml

Sampel kulit

Y x n = 6,313 X – 0,136

0,231 x 10 = 6,313 X – 0,136

2,31 + 0,136 = 6,313 X

2,446 = 6,313 X

X = 0,387  mg/ml

B. Pembahasan

Kolesterol adalah komponen asam lemak yang terdapat dalam darah. Zat ini sangat diperlukan oleh tubuh untuk proses-proses tertentu bagi kelangsungan hidup. Di antaranya untuk membentuk hormon, membentuk sel, dan merawat sel-sel saraf. Sintesis kolesterol sebgain besar terjadi di dalam hati, selain itu terjadi pula di usus halus, kelenjar adrenal dan testis. Di samping itu juga berasal dari makanan yang diabsorbsikan di usus bersama lipid yang lain yang disintesis dalam usus. Kolesterol diangkut dalam lipoprotein plasma baik sebagai kolesterol maupun ester kolesterol.

Praktikum tentang pengukuran kadar kolesterol ini bertujuan untuk mengetahui prinsip pengukuran kolesterol tersebut dengan menggunakan metode Lieberman – Burchards dan mengetahui kadar kolesterol pada otak, hati, kulit dan daging.

Dari data hasil pengamatan dapat diketahui nilai absorbansi dari masing-masing sampel. Nilai absorbansi dari masing – masing sampel dimasukkan ke dalam persamaan regresi (didapat dari kurva standar kolesterol), dimana persamaannya adalah:

Y= 6,313 X – 0,136

X= Y + 0,136

6,313

Karena ada faktor pengenceran sehingga rumusnya Y x n = 6,313 X – 0,136

Y= absorbansi

X= kadar kolesterol

n= Pengenceran

 

Dari perhitungan dengan memasukan nilai absorbansi sampel maka diperoleh kadar kolesterol pada otak 0,449 mg/ml,  pada daging 0,330  mg/ml, pada kulit 0,387  mg/ml dan pada hati sebesar 0,167 mg/ml. Dari data ini dapat kita lihat bahwa kadar kolesterol terbesar adalah pada sampel otak yaitu 0,449 mg/ml dan terendah pada sampel hati sebesar 0,167 mg/ml.

Kadar kolesterol dalam setiap jenis bahan makanan cukup bervariasi tergantung pada jenis dan macam produknya, bahkan kandungan kolesterol pada setiap bagian/organ tubuh hewan pun berbeda- beda. Secara fisiologi kolesterol penting bagi tubuh, karena merupakan bahan penyusun membran sel, sintesis garam empedu dan prasat (precursor) hormon khususnya kelompok hormon steroid.

Kolesterol disintesis dalam keadaan normal oleh tubuh sejumlah 2 kali dari kadar kolesterol di dalam makanan yang dimakan. Kolesterol yang disintesis diubah menjadi jaringan, hormon dan vitamin yang kemudian beredar ke dalam tubuh melalui darah. Tetapi ada pula kolesterol yang kembali ke dalam hati untuk diubah menjadi garam empedu dan garamnya. Hasil sintesis kolesterol disimpan dalam jaringan tubuh. Tubuh dalam keadaan normal, bila terjadi gangguan dalam konsumsi kolesterol maka akan terjadi mekanisme untuk mempertahankan balance atau keseimbangan kolesterol sebagai mekanisme pertahanan. Namun bila terjadi gangguan dapat berupa penimbunan kolesterol atau derivatnya di arteri menimbulkan penghambatan aliran darah, menyebabkan tekanan darah tinggi dan menyebabkan beberapa penyakit kardiovascular (Linstromberg, 1996 : 409).

 

BAB V

SIMPULAN

A. Simpulan

  1. Prinsip pengukuran kadar kolesterol adalah dengan metode Liberman-Burchards di mana pada prinsipnya menggunakan asal spesifik berupa spektrofotometer di mana sampel telah mengalami pengenceran sesuai volume pengencerannnya masing-masing.
  2. Dari praktikum yang dilakukan diperoleh kadar kolesterol dalam otak 0,449 mg/ml, dalam hati 0,167 mg/ml, dalam daging 0,330  mg/ml dan dalam kulit 0,387  mg/ml, sehingga kadar kolesterol tertinggi ada dalam otak dan kadar kolesterol terendah ada dalam hati.

 

Daftar Pustaka

Anonim.2010.Kolesterol.Diakses tanggal 31 Oktober 2010, jam 09.300 WIB. http://id.wikipedia.org/wiki/Kolesterol

Astuti. 2007. Petunjuk Praktikum Analisis Bahan Biologi. Yogyakarta : Jurdik                       Biologi FMIPA UNY

 

 

Dawiesah, I. S. 1989. Petunjuk Laboratorium Penentuan Nutrien Dalam Jaringan dan Plasma tubuh , Yogyakarta : PAU pangan dan gizi UGM.

 

 

Linstromberg, Walter W. 1966. Organik Chemistry, A Brief Course. Boston ; D.C. Heath ang Company.

 

 

Schunack, Walter; Mayer, Klaus and Haake; Manfred. 1990. Senyawa Obat, Buku Pelajaran Kimia Farmasi. Edisi kedua. (Terjm. Joke R. Wattimena dan Sriwoelan Soebito). Yogyakarta : GMU-Press.

 

 

Siswono.2001.Bahaya dari Kolesterol Tinggi.Diakses tanggal 31 Oktober 2010, jam 09.35 WIB. http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid997059568,35248,

 

 

Yatim, W. 2003. Kamus Biologi. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

 

 

 

 

 




 

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s